Hanya

February 17th, 2008 by ferdys

Hanya sebetik kisah lidahmu yang menganga
Menusuk menyeruak merobek kertas putih

Hanya sedetik kerlip matamu bertutur
Cukuplah meruntuhkan gunung keangkuhan jaman

Hanya jentik jarimu memetik harpa
Darah-darah dara mengalir dari telinga

Hanya saja kamu tak memijak kaki
Jika tidak, tentu cacing telah memenuhi ususmu yang buntu
Dan lintah bersorak diatas lukamu yang bernanah

Bookmark and Share

Pak e

December 9th, 2007 by ferdys

Duapuluhempat jam
Tujuh hari
Bahkan mungkin lebih dari tigaratusenampuluhlima hari

Aku kangen, Pak

Bapak kangen aku, gak?

Bookmark and Share

Cinta Tanpa Akhir

December 7th, 2007 by ferdys

Budhe dan Pakpuh
Masih tak paham juga napa mereka berpisah secepat ini, setelah 40 tahun menikah. Budhe hanya sakit 2 hari karena kanker yang 17 tahun lalu dinyatakan sembuh. Diare yang dianggap biasa pun menjadi tanda yang tidak dipahami.
Sekitar pukul 8 pagi budhe masih belanja di depan rumahnya di perumahan AL. Kebetulan pakpuh pensiunan AL dengan pangkat yang tidak tinggi. Pukul 9an, tiba2 Budhe lemas, Pakpuh membawanya ke tempat tidur. Di tempat tidur Budhe mulai diare gak terkontrol, seperti keluar sendiri. Sampai dibawa ke kamar mandi, Budhe masih diare. Pakpuh juga telaten nyiramin. Budhe jadi lemas sekali, sampai-sampai dibonceng ke puskesmas atau RS pun sudah tidak kuat.
Pagi itu juga Pakpuh menghubungi anak tertuanya, Mbak Anik, yang kerja di RSU. Sekitar setengah jam kemudian Mbak Ndari datang dengan ambulans. Sampai dengan malam masuk IRD, Budhe sudah tidak bisa bicara jelas. Jarum suntik sudah sulit masuk, selang sudah tidak bisa dipasang. Tujuhbelas tahun yang lalu pun tidak ada satu selangpun yang bisa masuk. Tapi Allah masih memberi usia pada Budhe, sampai dengan saat itu. Badannya panas sekali, sampai 41 oC. Di saat itu pula, asma Budhe kambuh. Dokter mulai menyingkir ketika asma Budhe sudah tertangani. Pakpuh masih setia di sampingnya, dikompresnya dahi, ketiak, bahkan perutnya. Badan Budhe yang kecil, pendek, ditutupi dengan keriput, ditambah lagi terbaring di ranjang membuatnya tampak sangat ringkih tanpa daya. Pakpuh yang tinggi besarpun terlihat lemah di samping Budhe. Matanya berkaca-kaca menahan kepedihan, mungkin bertanya-tanya kenapa istrinya selalu diberi cobaan sakit seperti ini.
Mbak Anik terdiam di pojok ruangan. Sepi sekali.

Pagi yang berbeda Mbak Anik memegang tangan ibunya yang lemah, dibisikkannya nama suci Allah dan syahadat. Diusapnya kepala Budhe yang hangat. Aku tak bisa berkata-kata lagi hingga sang malaikat menjemputnya… Mbak Anik terisak, bahunya naik turun, dapat kulihat kepedihan yang mendalam yang sedang  ditahannya, dipegangnya erat tangan Budhe..

Diam…hening…
Bukk…Bukk…Ibukk…

Budhe diam. Matanya terpejam tenang. Badannya bersih tanpa bau yang menyengat meski Pakpuh bilang Budhe diare. Saat dimandikan pun Budhe tidak mengeluarkan kotoran apapun, semua bersih. Budhe….

———–

Hari ini, 9 hari setelah kepergiannya, Pakpuh masih berduka. Dikenangnya hari-hari bersama Budhe. Tidak ada pertanda apa-apa sebelum Budhe "pulang". Mulai dari usai subuh, Budhe memasak dan Pakpuh duduk-duduk, menunggu kopi Budhe yang manis dan khas. Kadangkala mereka berjalan-jalan keliling komplek. Ada kalanya Pakpuh ke tempat teman atau sanak saudara. Dan Budhe tidak pernah mau ditinggal di rumah. Kemanapun mereka pergi selalu bersama naik motor. Tubuh Budhe yang kecil selalu tidak tampak karena tertutup tubuh Pakpuh yang tinggi dan tegap. Tiap tiga bulan keluarga besar kami ada arisan keluarga. Bulan kemarin tepat di rumah Budhe dan Pakpuh, arisan terakhir Budhe dengan kami. Mereka takkan lagi pergi ke luar kota bersama naik motor hanya untuk menghadiri arisan itu. Aku juga masih mengingat dengan baik betapa Budhe nampak letih tapi beliau selalu bilang tidak ada apa-apa.

Di beranda rumahnya Pakpuh termenung, diingatnya lekat-lekat betapa Budhe selalu mencintai anak-anak dan cucu-cucunya. Pakpuh juga selalu mengingat saat Budhe harus menjual tiap emas yang menempel di badannya untuk anak atau cucunya dan karena takut Pakpuh kecewa, Budhe membeli imitasinya. Tidak jarang Budhe berbohong pada Pakpuh, mengambil tabungan mereka yang tidak seberapa untuk membayar hutang anaknya yang ke dua kepada pegadaian. Di beranda itu pula, tiap sore Pakpuh selalu ngobrol menghabiskan waktu dengan Budhe. Membicarakan anak-anaknya yang telah matang. Anak pertama dan kedua mereka telah menikah, cucu-cucu mereka pun telah beranjak remaja, meski sulit, mereka sedang berusaha melepas anak-anak itu untuk lebih mandiri menghadapi kesulitan hidupnya. Anak yang ketiga hendak menikah akhir tahun ini, dan yang terakhir telah diwisuda bulan November kemarin. Satu persatu beban mereka terasa berkurang. Rasanya kemesraan mendidik anak-anak telah mereka lalui cukup lama. Mungkin sudah saatnya mereka menikmati masa tua dengan sedikit santai.

………..

Air mata Pakpuh nyaris jatuh. Pakpuh bukan orang yang mudah menangis mesti perasaannya sangat halus. Betapa Pakpuh selalu mengenang Budhe layaknya istri yang sempurna, patuh dan selalu nrimo apapun yang diberikan Pakpuh. Impian mereka untuk memperbaiki rumah belum selesai.Harapan mereka untuk dapat menjalani hari tua mereka dengan lebih santai tidak akan ada. Pakpuh hanya bisa berkata, "Tentu saja aku ikhlas, tapi rasanya masih berat di hati."

Melihat mereka seperti melihat pasangan sejoli yang tak pernah putus. Cinta sejati tanpa akhir. Kemesraan tiada batas. Mataku hanya berkaca-kaca. Boleh jadi tubuh Pakpuh besar, tapi hati Pakpuh demikian rapuh. Kekuatan cinta telah membuatnya demikian tegar dan perkasa.

Budhe….semoga Allah memberi tempat yang indah dan memberi kemudahan pada Budhe. Semoga Allah mengampuni segala dosa Budhe dan semoga kepergian Budhe memberikan kekuatan pada keluarga yang ditinggalkan.

Sesungguhnya Budhe tidak pernah benar-benar pergi. Karena Budhe selalu tinggal di hati kami. Budheku yang baik, yang sabar, yang suka membuat risoles (maaf Budhe saya belum bisa menerapkan resep Budhe), Budhe yang halus dan tulus hatinya…

—————-

Kak….wherever u r right now…

Aku menunggu awal yang indah dan perjalanan yang indah serta akhir yang indah. Semoga kelak kita dapat membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Semoga Allah memberi kita kekuatan dalam membina cinta tanpa akhir, setelah kecintaan kita padaNya. Amin..

Karmen, 7 Desember 2007

Bookmark and Share

Buka-bukaan aja

December 3rd, 2007 by ferdys

Tuhan..
Buka mata dan hati kami yang kelam
Bukalah simpul lidah kami yang kelu

Untuk sebuah hati yang asing..
Tunjuklah satu cahaya untuk menuntun jalan
Agar tiada sesal di kemudian

Buka-bukaan aja
Terang-terangan aja
Apalah nikmatnya dalam gelap
Apalah indahnya jika smua hanya sesaat

Kubuka telinga ini untuk mendengarmu…
Mendengar petuah2 saktimu
Mendengar keluh2mu yang bertalu2
Mendengar petunjuk2mu tentang cara hidup

Lebarkan jalan
Jangan menampakkan seolah kau sendirian
Tidak akan pernah kita sendiri, kawan
Tidak akan pernah kita berada dalam kehampaan
Bergantung pada hati kemana menapaki jalan panjang kehidupan

Buka-bukaan aja
Buka hati
Buka mata
Buka telinga
Dan perlahan akan kita lihat
Banyak keajaiban di luar sana
Banyak kedukaan yang lebih daripada kita

Bookmark and Share

cinta manusiawi

November 26th, 2007 by ferdys

Hana suka lon…
Aku suka kamu…

Manusiawi sekali…

Berbisik lirih menahan perih…
Antara takut kehilangan dan takut memiliki…
Betapa hanya ada satu yang pantas dicinta…
Betapa hanya satu yang Maha Memiliki…

Tapi ini manusiawi…

Ketika memandangnya saja membuat miris…
Ketika mendengarnya saja membuat menangis…
Berdiri di dekatnya pun berdiri bulu kuduk…
Bersandar di dadanya pun tak mampu…

Sungguh manusiawi…

Biarkan saja manusia menjadi manusia…
Meski berat rasanya…
Simpan saja jika ingin menyimpannya…
Bahkan utusanNya pun jatuh cinta…

Inilah cinta yang manusiawi yang diciptakanNya untuk kita…
Nikmatilah dalam kadar yang semestinya…
^_^

Bookmark and Share

dian-tara bintang

June 13th, 2007 by ferdys

Terima kasih cinta…
Kau beri ku kesempatan mencintaimu…
Puji syukur wahai pemilik cinta…
Engkau beri waktu untukku merasakan cinta…

Dan bertebaranlah cinta pemilik semesta…
Sebagaimana bintang-bintang di angkasa…
Semoga daku dian-tara bintang-bintang cintaMu
Dalam kehangatan malam-malam penuh cintaMu
Cukupkan aku dalam kecintaanMu….

Bookmark and Share

perrrih

May 8th, 2007 by ferdys

lembut tapi perih kau sentuh aku….perlahan tapi menusuk kau coba membunuhku…kau coba rajam aku dalam kesenangan sesaat..membutakan mata yang hanya separuh terkatup….
tapi tidak cinta…bak pasir yang perih menyayat daging dalam kerang…kelak perihmu akan jadi mutiara penawar cinta…
kau kan datang lagi dan lagi cinta..membawa pasir2 yang legam dan membawa kepedihan..dan aku akan menelannya..memuntahkannya sebagai mutiara…untukmu…

Bookmark and Share

Senyum

December 12th, 2005 by ferdys

Dalam senyum indah…kau membalut luka yang sempat bernanah…hingga darah tak lagi merah

Merengkuh segala gundahsenyummu damaikan jiwa…membawa insan kepada nirwana…dalam mimpi tanpa lelap…dalam rindu tanpa ungkap…

Tanpa harus kau ketuk pintu …kau telah ada dalam hatikusenyum yang tulus adalah kuncimu…yang melingkupi segala dirimu…

Tak ada pedih yang tak terobati..tak ada perih yang tak bertepi…senyum dalam detak waktu…buat dunia tak tak berpeluh…dinda sayang sekali lagi katakan…dengan segala keheningan yang tak tertahankan…katakan semua dalam kedamaian..dengan SENYUM…

Mizz ur smiles….

Bookmark and Share

normal

October 26th, 2005 by ferdys

untuk sesuatu yang normal…saat hati tidak sedang berguncang dg hebatnya…saat perasaan tak merajai akalku…

sesuatu yang indah ada di hadapanku..dan ia hanya diam membisu..tapi bisa kubaca dengan jelas gerak tubuhnya..mengatakan ia suka aku…

nanti..hanya menunggu waktu…kalau kau tidak pergi..maka demikian pula denganku…biar segalanya normal..dan apa adanya..berjalan seiring waktu yang tak pernah bisu..

Bookmark and Share