Budhe dan Pakpuh
Masih tak paham juga napa mereka berpisah secepat ini, setelah 40 tahun menikah. Budhe hanya sakit 2 hari karena kanker yang 17 tahun lalu dinyatakan sembuh. Diare yang dianggap biasa pun menjadi tanda yang tidak dipahami.
Sekitar pukul 8 pagi budhe masih belanja di depan rumahnya di perumahan AL. Kebetulan pakpuh pensiunan AL dengan pangkat yang tidak tinggi. Pukul 9an, tiba2 Budhe lemas, Pakpuh membawanya ke tempat tidur. Di tempat tidur Budhe mulai diare gak terkontrol, seperti keluar sendiri. Sampai dibawa ke kamar mandi, Budhe masih diare. Pakpuh juga telaten nyiramin. Budhe jadi lemas sekali, sampai-sampai dibonceng ke puskesmas atau RS pun sudah tidak kuat.
Pagi itu juga Pakpuh menghubungi anak tertuanya, Mbak Anik, yang kerja di RSU. Sekitar setengah jam kemudian Mbak Ndari datang dengan ambulans. Sampai dengan malam masuk IRD, Budhe sudah tidak bisa bicara jelas. Jarum suntik sudah sulit masuk, selang sudah tidak bisa dipasang. Tujuhbelas tahun yang lalu pun tidak ada satu selangpun yang bisa masuk. Tapi Allah masih memberi usia pada Budhe, sampai dengan saat itu. Badannya panas sekali, sampai 41 oC. Di saat itu pula, asma Budhe kambuh. Dokter mulai menyingkir ketika asma Budhe sudah tertangani. Pakpuh masih setia di sampingnya, dikompresnya dahi, ketiak, bahkan perutnya. Badan Budhe yang kecil, pendek, ditutupi dengan keriput, ditambah lagi terbaring di ranjang membuatnya tampak sangat ringkih tanpa daya. Pakpuh yang tinggi besarpun terlihat lemah di samping Budhe. Matanya berkaca-kaca menahan kepedihan, mungkin bertanya-tanya kenapa istrinya selalu diberi cobaan sakit seperti ini.
Mbak Anik terdiam di pojok ruangan. Sepi sekali.
Pagi yang berbeda Mbak Anik memegang tangan ibunya yang lemah, dibisikkannya nama suci Allah dan syahadat. Diusapnya kepala Budhe yang hangat. Aku tak bisa berkata-kata lagi hingga sang malaikat menjemputnya… Mbak Anik terisak, bahunya naik turun, dapat kulihat kepedihan yang mendalam yang sedang ditahannya, dipegangnya erat tangan Budhe..
Diam…hening…
Bukk…Bukk…Ibukk…
Budhe diam. Matanya terpejam tenang. Badannya bersih tanpa bau yang menyengat meski Pakpuh bilang Budhe diare. Saat dimandikan pun Budhe tidak mengeluarkan kotoran apapun, semua bersih. Budhe….
———–
Hari ini, 9 hari setelah kepergiannya, Pakpuh masih berduka. Dikenangnya hari-hari bersama Budhe. Tidak ada pertanda apa-apa sebelum Budhe "pulang". Mulai dari usai subuh, Budhe memasak dan Pakpuh duduk-duduk, menunggu kopi Budhe yang manis dan khas. Kadangkala mereka berjalan-jalan keliling komplek. Ada kalanya Pakpuh ke tempat teman atau sanak saudara. Dan Budhe tidak pernah mau ditinggal di rumah. Kemanapun mereka pergi selalu bersama naik motor. Tubuh Budhe yang kecil selalu tidak tampak karena tertutup tubuh Pakpuh yang tinggi dan tegap. Tiap tiga bulan keluarga besar kami ada arisan keluarga. Bulan kemarin tepat di rumah Budhe dan Pakpuh, arisan terakhir Budhe dengan kami. Mereka takkan lagi pergi ke luar kota bersama naik motor hanya untuk menghadiri arisan itu. Aku juga masih mengingat dengan baik betapa Budhe nampak letih tapi beliau selalu bilang tidak ada apa-apa.
Di beranda rumahnya Pakpuh termenung, diingatnya lekat-lekat betapa Budhe selalu mencintai anak-anak dan cucu-cucunya. Pakpuh juga selalu mengingat saat Budhe harus menjual tiap emas yang menempel di badannya untuk anak atau cucunya dan karena takut Pakpuh kecewa, Budhe membeli imitasinya. Tidak jarang Budhe berbohong pada Pakpuh, mengambil tabungan mereka yang tidak seberapa untuk membayar hutang anaknya yang ke dua kepada pegadaian. Di beranda itu pula, tiap sore Pakpuh selalu ngobrol menghabiskan waktu dengan Budhe. Membicarakan anak-anaknya yang telah matang. Anak pertama dan kedua mereka telah menikah, cucu-cucu mereka pun telah beranjak remaja, meski sulit, mereka sedang berusaha melepas anak-anak itu untuk lebih mandiri menghadapi kesulitan hidupnya. Anak yang ketiga hendak menikah akhir tahun ini, dan yang terakhir telah diwisuda bulan November kemarin. Satu persatu beban mereka terasa berkurang. Rasanya kemesraan mendidik anak-anak telah mereka lalui cukup lama. Mungkin sudah saatnya mereka menikmati masa tua dengan sedikit santai.
………..
Air mata Pakpuh nyaris jatuh. Pakpuh bukan orang yang mudah menangis mesti perasaannya sangat halus. Betapa Pakpuh selalu mengenang Budhe layaknya istri yang sempurna, patuh dan selalu nrimo apapun yang diberikan Pakpuh. Impian mereka untuk memperbaiki rumah belum selesai.Harapan mereka untuk dapat menjalani hari tua mereka dengan lebih santai tidak akan ada. Pakpuh hanya bisa berkata, "Tentu saja aku ikhlas, tapi rasanya masih berat di hati."
Melihat mereka seperti melihat pasangan sejoli yang tak pernah putus. Cinta sejati tanpa akhir. Kemesraan tiada batas. Mataku hanya berkaca-kaca. Boleh jadi tubuh Pakpuh besar, tapi hati Pakpuh demikian rapuh. Kekuatan cinta telah membuatnya demikian tegar dan perkasa.
Budhe….semoga Allah memberi tempat yang indah dan memberi kemudahan pada Budhe. Semoga Allah mengampuni segala dosa Budhe dan semoga kepergian Budhe memberikan kekuatan pada keluarga yang ditinggalkan.
Sesungguhnya Budhe tidak pernah benar-benar pergi. Karena Budhe selalu tinggal di hati kami. Budheku yang baik, yang sabar, yang suka membuat risoles (maaf Budhe saya belum bisa menerapkan resep Budhe), Budhe yang halus dan tulus hatinya…
—————-
Kak….wherever u r right now…
Aku menunggu awal yang indah dan perjalanan yang indah serta akhir yang indah. Semoga kelak kita dapat membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Semoga Allah memberi kita kekuatan dalam membina cinta tanpa akhir, setelah kecintaan kita padaNya. Amin..
Karmen, 7 Desember 2007